Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Dimulai Dari Diri, Keluarga dan Masyarakat




Assalamu'alaikum ...
Selamat pagi, siang ,sore dan malam ...
Ibu dan Bapak, Mba dan mas, Bro dan Sis, Kaka dan Adek, hehehe ...

Apa kabar kalian semua .. ?? Sehat kah .. ??
Masih waras kan Yaaa, hehehe ..
Alhamdulillah kalau memang pada sehat semua nya, kalian memang luar biasa .. (upps, udah kaya artes manggung neh,hihihi). Secara cuaca mulai berubah- ubah nih, ye khaann ... jaga kesehatan  kondisi tubuh, biar tetap bisa semangat beraktifitas.

Kalau ngomongin tentang sehat atau kesehatan, makna nya luas ya. Sehat itu apa sih menurut kalian, atau ingin sehat yang seperti apa?
Mungkin secara fisik kelihatan sehat, tapi secara jiwa dan mental apakah sudah sehat? Karna pada dasar nya, seseorang di katakan sehat jiwa dan raga itu harus meliputi 4 aspek, yaitu :

- Fisik
- Mental
- Sosial
- Spiritual

Menurut UU No. 18 tahun 2014, Kesehatan jiwa adalah,

" Kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitas."



Terkait masalah diatas, dalam rangka menyambut hari " Kesehatan Jiwa Sedunia" yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2019, KEMENKES RI Mengadakan acara Temu Blogger dengan tema :

" Sehat Jiwa Di mulai Dari Diri, Keluarga dan Masyarakat ". 

Berkaca pada sebuah cerita, dari seorang psikolog yang menjadi nara sumber diacara ini, yaitu ibu Noviyanti yang mengalami Postpartum Despression menceritakan pengalaman nya beberapa tahun lalu yang sempat stress/despressi karna tidak terima harus melahirkan secara Caesar dan tidak bs menggendong anak pasca melahirkan.



Melempar anak ke atas kasur, atau melampiaskan kemarahan ke bayi nya adalah hal yang biasa di lakukan oleh nya.

Pengalaman nya yang sempat ingin bunuh diri pasca melahirkan anak nya yang secara Caesar akhir nya bisa pulih setelah di teraphy selama 2,5th lebih.
Setelah d terapi dan masuk ke dalam komunitas yang bernama " Motherhope Indonesia " akhir nya Ibu Novianty yang notabene seorang psikolog pulih setelah mendapatkan banyak support.

Wah, kalau dengar cerita seperti di atas tadi serem ya. Yakin deh, gak ada satu orang pun yang mau seperti itu. Namun kenyataan nya ya memang terjadi dan ada di dunia ini.



Berkaca dari kejadian diatas ada cerita yang bisa kita tangkap,yaitu beberapa Hal Yang Mendorong Suicidal Ideation (ide untuk melakukan bunuh diri) , seperti :

- Merasa kesepian
- Merasa tidak dibutuhkan/ tidak berguna.
- "Lelah" dengan kehidupan
- Putus asa
- Tidak ada yang mendukung/ merasa tidak ada yang peduli.
- Merasa di jauhi teman / kerabat.
- Perasaan tertekan



Hemm, kalau mendengar kata- kata bunuh diri, aku parno banget deh. Tapi siapa saja sih yang beresiko Mengalami masalah  psikologis berat/gangguan jiwa dan despresi , diantara nya adalah :

- Ada nya predisposisi kerentanan
- Ada nya masalah hubungan awal yang tidak harmonis  atau terputus dengan ibu (maternal devripation)
- Mengalami kekerasan bullying, trauma, diskriminasi
- Mengalami tekanan hidup berat.
- Minim dukungan sosial
- Sejarah anggota keluarga bunuh diri
- Mudah mendapatkan alat bunuh diri ( misal pil, tali, pistol) 

Lebih parah nya lagi, ternyata "Bunuh Diri" itu bisa menular lho ! Hemm .. contoh nya kejadian yang bisa membuat seseorang terpacu untuk mengikuti/mencontoh kejadian disekitar mereka, seperti ada artis terkenal bunuh diri, ada bunuh diri di lingkungan sekitar rumah, terlalu banyak berita bunuh diri. Nah, hal-hal seperti ini yang bisa mendorong seseorang melakukan hal bunuh diri tersebut.

Didalam masyarakat, masalah seperti ini tak jarang terjadi. Hampir 800 ribu orang meninggal setiap tahun dan satu kematian terjadi hampir setiap 4 detik, dan di balik satu kematian akibat bunuh diri ada 20 percobaan bunuh diri yang tidak terdata.
Ketidaktahuan masyarakat dan perlakuan-perlakuan yang terjadi di masyarakat dalam menangani masalah terkait kesehatan jiwa seseorang dapat memperberat resiko tersebut, seperti :

- Perlakuan yang diskriminatif, judge mental, "menyakitkan"
- Tulisan atau cerita tentang bunuh diri yang tidak tepat
- Stigma yang terkait dengan jesehatan mental, penyalahgunaan zat atau perilaku bunuh diri yang mencegah orang mencari bantuan.
- Hujatan terhadap korban atau keluarga korban bunuh diri
- Anggapan bahwa bunuh diri karena kurang beragama
- Anggapan bahwa pembicaraan pencegahan bunuh diri adalah tabu atau bukan "urusan".

Lalu apa yang bisa kita lakukan jika kita menemukan kasus seperti ini di lingkungan sekitar kita.

kita dapat membantu nya dengan:

- Tunjukkan empati
- Ajak bicara
- Bantu selesaikan masalah
- Ajak cari bantuan profesional



Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, bekerjasama untuk Pencegahan Masalah Bunuh Diri yang mana di wakili oleh ibu Gamayanti menjelaskan bahwa,
" Bunuh diri dapat dicegah "
Ada beberapa cara yang dapat di lakukan untuk pencegahan bunuh diri, yaitu:

- Berinteraksi secara lebih positif
- Ajak terlibat di kegiatan- kegiatan positif dan menyenangkan
- Cek interaksi di media sosial
- Kenali teman-temannya
- Sembunyikan alat- alat bunuh diri

Kesehatan jiwa juga bisa di alami oleh anak- anak dan remaja.

Dokpri

Info menarik nya sekarang sudah aplikasi terkait masalah ini lho, untuk lebih jelas nya kalian bisa kunjungi aplikasi " Sehat Jiwa "



Jadi mari kita bekerjasama dalam upaya pencegahan bunuh diri.



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Lebih Dekat Wisata Kota Tua Melalui Kegiatan Happiness Race bersama Vivalova

Toyota All New Rush

Fintech AdaKita dan Manfaat nya Bagi Masyarakat