Zero Waste, Kantin Asyik Tanpa Plastik

Tepat setahun yang lalu, kira-kira bulan Oktober, merupakan moment yang mungkin mengejutkan bagi siswa- siswi murid SMPN 12 Jakarta, tempat anakku bersekolah. 

Bagaimana tidak, kantin yang biasa terlihat riuh, yang menjadi tempat favorit setiap siswa, bukan hanya sekedar makan atau jajan, namun bercengkrama dengan teman-teman (duhh, jadi inget zaman masih sekolah dulu ) tiba-tiba meniadakan sebagian besar jajanan berkemasan plastik. Bahkan air mineral botol pun, berangsur-angsur tidak terlihat penampakannya alias hilang dari peredaran. Ada apa gerangan ? 

Kantin yang sudah berumur puluhan tahun itu pun menjadi saksi salah satu penerapan pelaksanaan program lingkungan hidup disekolah. 
Sah sudah pemotongan pita yang dilakukan didepan area kantin oleh Bapak Kepala Sekolah dan wakilnya. 

Sekolah yang sebagian besar dindingnya bercat hijau pupus itu, terlihat sejuk dengan pemandangan pohon-pohon yang rindang di sekelilingnya, melalui program peduli lingkungan, sekolah mengajak seluruh lapisan masyarakatnya untuk dapat lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. 

How? Cara nya? Mulai membiasakan diri  dengan hal-hal sederhana yang ramah lingkungan yang bisa berdampak besar jika dilakukan bersama-sama dan berkelanjutan. Contohnya? Minim plastik di kantin sekolah.  

Memang kenapa sih pakai plastik? Ada apa dengan plastik? Mengapa semua jadi salah pakai plastik? 

Eits, jangan emosi dulu. Sekedar pengetahuan, kalian tau gak sih awal mula kantong plastik diciptakan. 
Siapa sangka ya, kalau duku kantong plastik diciptakan justru untuk menyelamatkan bumi. 

Kantong plastik pertama kali dibuat pada tahun 1959 oleh Sten Gustaf Thulin, dengan alasan untuk mengganti kantong kertas. 

Putra thulin yaitu Raoul Thulin mengatakan, dunia tengah mencoba untuk menjaga sumber daya alam. 
Semakin banyak kantong kertas, berarti semakin banyak pohon yang ditebang. Sehingga ide untuk membuat kantong berbahan plastik  menjadi relevan karena akan lebih mudah dibawa ke mana pun dan bisa dipakai berkali-kali. 

Akhirnya Thulin memutar otak untuk menemukan sebuah  bahan yang bisa digunakan berkali-kali dan terciptalah kantong plastik berbahan polymer. 

Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan perilaku manusia membuat plastik menjadi masalah karena budaya penggunaan plastik hanya untuk 1x penggunaan saja lalu di buang. 

"Aku dibuang pas lagi sayang-sayangnya" 
(Bro-sis plastik)

Padahal plastik itukan lama sekali bisa hancur dengan sendirinya. Belum lagi perilaku membuang sampah sembarangan. Akhirnya timbul lagi masalah baru yang tak kalah runyam, yaitu sampah. 

Ibarat masalah yang tiada akhir, nasib sampah kini memanglah sungguh menyedihkan. Dibuang, ditumpuk, dan ditinggal. Jika sampah dapat bicara, mungkin mereka akan bilang, " kalian semua suci, sedangkan aku penuh dosa". Wkwkwk … 

Berdasarkan hal tersebut, akhirnya munculah komitmen untuk turut serta meminimalisir dampak kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh lingkungan kita sendiri, yaitu sekitar sekolah.

Kira-kira dari mana ya sumber sampah sekolah itu? Tentu nya ya dari kantin sekolah. Pusat para calon sampah berkumpul. Hehehe .. 

Tidak hanya makanan, minuman berbahan dasar plastik pun diganti dengan kemasan kaleng. Para siswa pun dihimbau untuk membawa tumbler dan membeli air isi ulang kerimbang air kemasan.  

Dan di kantin inipun menerapkan Zero waste yang artinya pembelian makanan di kantin harus menggunakan wadah sendiri. 

Kantong Plastik.
Dulu Pahlawan Sekarang Dilawan.

Nah, kalau sekarang kita mungkin sudah familiar dengan gerakan diet kantong plastik saat ini yang tengah digalakkan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. 

Sekarang belanja di manapun rata-rata pihak toko sudah tidak menyediakan lagi kantong plastik, alih-alih mereka menawarkan kantong yang ramah lingkungan dan bisa dipakai berkali-kali dengan harga yang terjangkau. 

So, pastikan kalian membawa kantong belanjaan sendiri dari rumah yang ramah lingkungan ya sebelum berbelanja. 

Eits, jangan takut ya. Semua berasal dari bersama-sama membiasakan diri terlebih dahulu. Jika kita sudah konsisten, nantinya akan terbentuk prinsip serta budaya ramah lingkungan. 

Untuk saat ini, Keep Calm and less plastic!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensasi Mandi Parfume Bareng Vitalis Parfume Moisturizing Body Wash

Toyota All New Rush

True Money Gandeng EmasDigi Siapkan Investasi buat Ibu Rumah Tangga